SEMANGATNYA MENGALAHKAN KANKER PAYUDARANYA…

Siapa yang tak trenyuh mendengar seorang ibu tua berusia 73 tahun mengatakan dirinya di vonis kanker payudara stadium 4+ (empat plus).  ibu ini makin membuat saya trenyuh dengan suaranya yang lembut dan penuh keyakinan meminta saya untuk melakukan terapi energi prana. Sebut saja nama ibu ini Laras. Dari postur tubuhnya yang masih tegap dan wajahnya yang memancarkan semangat tentu  tak akan ada satu orang pun percaya kalau beliau sedang mengidap penyakit kanker akut.

Saya sendiri sempat gundah saat diminta bantuan oleh salah satu rekan di kelompok  APALI (Asosiasi Penyembuh Alternatif Indonesia) seorang ibu yang sangat dekat dengan saya dan sudah saya anggap seperti ibu sendiri. Beliau mengatakan bahwa ada seorang ibu yang akan datang ke rumah saya untuk terapi dan meminta saya dengan begitu yakin sepertinya saya bisa, “Endang, bunda mau minta tolong ini ada kenalan bunda yang butuh di terapi sama Endang dengan energi prana…bersedia kan?”… wahhh ini benar-benar permintaan yang cukup mengejutkan bagi saya. Karena yang meminta adalah juga seorang therapis sedangkan saya biasanya melakukan terapi energi prana hanya untuk  orang2 terdekat saja. Saat itu saya bingung harus menjawab apa. seandainya ada yang melihat dialog saya dengan bunda pasti orang tertawa melihat wajah saya yang jadi melongo bingung harus bilang apa.

Singkat cerita akhirnya saya menyetujui untuk menerima tugas dan amanah dari bunda yang terbilang berat bagi saya. Bukan karena saya tidak mau. Hanya saja saya bimbang apakah saya bisa menolong dengan kondisi penyakit ibu Laras ini. Saya jelaskan kegundahan hati saya pada suami dan ternyata dia malah mendorong saya untuk segera membantu dengan apa yang bisa saya lakukan sepenuhnya bagi ibu Laras. “Yakinlah, mungkin ini sudah jalan kamu membantu ibu Laras”, ujar suami saya menyemangati.

Hari pertama kedatangan ibu Laras ada kejadian yang lucu. Saat masih di luar pagar rumah beliau sempat bertanya pada saya, “apa betul ini rumah ibu Endang?”.. saya lantas menjawab,”iya betul ibu”…..saya pun membukakan pagar dan mempersilakan beliau masuk dan ibu Laras bertanya lagi dengan wajah setengah tak percaya, “maaf ibu takut salah, ini ibu Endang?”….duhhh pasti ibu laras mengira yang akan menyambut sebagai ibu Endang mungkin benar-benar seorang ibu yang usianya kisaran 60 tahun ke atas. “iya ibu…ini Endang…saya sudah dengar cerita ibu dari bunda”,……ibu Laras pun tertawa dan menepuk tangan saya…”duh ibu gak nyangka…ternyata masih muda ya”, sambil tersenyum ibu Laras berusaha menjelaskan tentang kebingungannya. Saya lalu mempersilakan ibu  Laras untuk duduk dan kami langsung terlibat dalam percakapan serius. Ibu Laras menceritakan kalau dirinya sudah sejak 2009 divonis dokter mengidap kanker payudara stadium 4+ dan sejak itu ia telah berusaha keras untuk mencoba menjalani pengobatan baik secara medis maupun alternatif. Bahkan perawatan medis yang pernah ia jalani telah menghabiskan biaya lebih dari 600 juta rupiah. Dengan antuasias saya mendengar semua uraiannya hingga ia menjelaskan tentang keinginannya untuk diterapi energi prana. Akhirnya proses itu berjalan rutin. Dua kali dalam seminggu ibu Laras datang ke rumah dan menjalani terapi. Selama itu pula ibu Laras berbagi pengalaman hidupnya. Wajahnya selalu sumringah jika memasuki rumah saya. Ia selalu menggoda dengan mengatakan “kalau mendengar suara Endang rasanya penyakit ibu langsung menghilang”, …dan kemudian kami pun tertawa dengan guyon ibu Laras.

indahnya bunga ini menyemangati suasana pagi...Awal ketika saya melihat keadaan ibu Laras jujur saja saya merasa nyali saya langsung menciut. Tapi karena keyakinan saya bahwa kedatangan ibu Laras adalah atas kuasa Allah SWT maka saya akan mendapatkan cara dan kekuatan hati untuk membantunya. Saya melihat punggungnya sudah bengkak dan ia mengaku merasakan nyeri hingga tulang dan sulit tidur. Penderitaan ini sudah bertahun-tahun ia rasakan. Dalam hati, saya mengagumi semangat dan perjuangan ibu Laras melawan kankernya….dan tiba-tiba saya jadi ingat ibu saya tercinta … hingga sekarang ia juga selalu ceria dan kerap menasehati saya untuk selalu hidup sehat dan rajin olahraga. Ternyata apa yang melintas dalam pikiran saya ini berkaitan dengan cerita ibu Laras berikutnya. Ia berkisah tentang masa mudanya yang begitu sibuk. Tiga puluh tahun lamanya ia bekerja di perusahaan asing dan hampir sebagian besar waktunya terkuras untuk pekerjaan. Jika libur atau sedikit santai maka yang terpikir adalah makan yang enak-enak…dan itu berarti santan, lemak, kolesterol dan banyak lagi kandungan makanan yang menurut ibu Laras mendorongnya pada kondisi gaya hidup yang tak sehat. “mumpung Endang masih muda, jaga benar ya makanannya. Jangan sembarangan makan yang enak-enak padahal bisa saja diantaranya adalah racun untuk tubuh kita”, ujar ibu Laras dengan wajah sungguh-sunguh.

Obrolan yang akrab  selalu terjadi saat saya sedang melakukan terapi di bagian tubuh yang sakit sesuai petunjuk ibu Laras dengan menunjukkan mana saja yang ia rasakan nyeri. Saya hanya mentransfer energi melalui telapak tangan saya dan dibarengi dengan doa. Jika sedang di terapi ibu Laras mengatakan ada yang  ‘hangat’ mengalir sehingga membuat ia relaks dan ngantuk. Ibu Laras juga mengaku setelah terapi yang pertama, malamnya ia bisa tidur tiga jam…hal yang sudah lama  tidak ia rasakan. Biasanya setiap setengah jam terbangun karena nyeri dan panas di tubuh yang ia rasakan selalu menggangu tidurnya.

Sejak kedatangan ibu Laras ke rumah, jujur saja saya justru mendapatkan banyak pelajaran dan inspirasi yang luar biasa. Bayangkan, seorang ibu dengan umur 73 tahun masih tangguh dan semangat tinggi meyakini kalau dirinya akan sembuh dari penyakit kanker ini. Sedangkan saya, seringkali melemah semangatnya jika sedang menurun staminanya. Saya harus banyak belajar dari cara ia memandang hidup dan ujian hidup yang sering ia hadapi. Bahkan ia juga mengikhlaskan jika penyakit ini adalah pembersihan atas dirinya. “Saya hanya ikhtiar semampu saya sambil menunggu kapan waktu saya dijemput…karena mati itu pasti akan dialami siapa pun. Kita wajib ikhtiar”, jelas Ibu Laras. Duhhh …seandainya ibu Laras tahu bahwa setiap tangan saya menyentuhnya, hati saya ngilu dan saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. “Ya Allah Yang Maha Kuasa atas semua mahluk yang ada di alam semesta ini, hamba mohon… berikanlah kesembuhan pada ibu Laras….berikanlah kesempatan baginya menikmati bahagia di usianya yang telah lanjut”, …kata-kata ini terus bergema dalam hati.

Kunjungan ke empat…ibu Laras datang di dampingi menantu perempuannya. Saya pun mulai melakukan terapi sederhana seperti biasa…berdoa dan mendekatkan telapak tangan saya atau menempelkan untuk mentransfer energi. Tapi ada yang menarik di penglihatan saya… pembengkakan di punggung ibu Laras berkurang  dan menantunya menatap wajah saya dengan wajah takjub…”mbak Endang…bengkaknya jadi layu…lehernya sudah terlihat lagi lekukannya…” cetus menantunya. Saya coba mencubit punggung ibu Laras dan ternyata bisa…hal yang tidak mungkin saya lakukan saat awal datang. Subhanallah… saya tertegun melihat punggung ibu laras… jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Termasuk penyakit kanker payudara yang diderita ibu Laras juga bisa sembuh atas izin dan kuasa Allah.

Saya makin optimis dan jadi lebih bersemangat untuk membantu ibu Laras karena kemajuan yang ditampakkan secara fisik. Semangat ibu Laras menjadi inspirasi terbesar dalam hidup saya. Semangatnya pula yang membawanya pada pencerahan hidup yang luar biasa. Menurut ibu Laras, semangat, ihktiar dan doa yang  membuatnya mampu bertahan atas penyakit yang dideritanya.  Saya tidak pernah mentarget  akan seperti apa hasilnya dengan terapi prana yang saya lakukan pada ibu Laras. Mendengar ia bisa tidur nyenyak dan melihat punggungnya yang bengkak menjadi layu saja saya sudah bahagia. Terlebih hasil diagnosa terakhir dari rumah sakit menjelaskan bahwa perkembangan virus kankernya seperti berhenti/tidak berkembang lagi ke arah yang mengkhawatirkan dan ini terjadi untuk pertama kalinya selama ia melakukan pengecekkan yang biasa ia lakukan secara rutin tiap minggu. Semoga kedepannya kondisi ibu Laras makin bertambah baik dan selalu dalam limpahan bahagia bersama anak cucunya.

Salam Cahaya

Endang Widiastuti R.

email : endang_hp69@yahoo.com

HP : 0812-98227607

One thought on “SEMANGATNYA MENGALAHKAN KANKER PAYUDARANYA…

  1. Saya sangat terkesan setelah membaca tulisan ibu Endang yang dengan seamangatnya meneliti tentang keberadaan Orbs yang slma ini menjadi berdebatan dianatara para Pemikir, trs terang saya secara pribadi mengakui bahwa Orbs bahagian dari Makhluk halus yang slm ini ada diantara kita, tks
    Salam metafisik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s