TENTANG AYAHKU DAN AJARAN2NYA : Tentang kejujuran, ketangguhan, tawakal, istiqomah, rezeki halal dan haram

TENTANG AYAHKU DAN AJARAN-AJARANNYA :

Tentang kejujuran, ketangguhan, tawakal, istiqomah, rezeki halal dan haram

(by : Endang Widiastuti R.)

Selasa, 21 September 2010. Pkl: 00.05 WIB

Suasana syahdu malam ini membuat aku ingin menuangkan apa yang menjadi ‘rasa’ terbesar dalam hatiku. Kangen …. mungkin ini kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku terhadap almarhum ayahku. Lelaki tangguh yang  tidak bosan-bosannya selalu mengajarkan kejujuran untuk  kelima anaknya. Dengan segala rasa kasihnya, kerap mengingatkan aku agar tidak jadi orang yang gemar mengeluh… (padahal ini yang sering terjadi jika sedang merasa penat)…. dan harus jadi wanita tangguh ..( hmmm ternyata tidak mudah)

Nama ayahku Muchlas Mangkuwinoto.  Lelaki asal Magelang yang begitu teguh pendiriannya dalam segala hal. Dalam keseharian ia begitu menghargai bahkan sangat hormat terhadap orang lain. Tak pernah sekali pun aku mendengar ayahku berkata dengan nada sombong atau menyepelekan orang lain. Tutur bahasanya halus tapi tegas (mungkin ini didikan dari eyang  kakung- bapaknya bapakku). Ia juga seorang yang sangat disiplin. Perubahan besar dalam kehidupan spiritualnya sudah aku rasakan sejak aku kecil. Tepatnya ketika aku berusia 4 tahun. Hal yang menurutku aneh karena aku masih terlalu kecil untuk menalar apa saja yang dilakukan ayahku. Tapi memori atas kebersamaanku dengan ayahku semasa hidupnya begitu kuat. Khususnya saat ayahku melakukan berbagai ritual ibadah, seperti sholat-dzikir-puasa wajib atau pun sunah. Aku yang masih balita kala itu tanpa komando atau ajakan ayahku tergelitik untuk mengikuti diam-diam (padahal aku yakin ayahku tahu polahku saat itu). Dimatanya aku bocah perempuan yang tidak bisa diam dan ingin ikut apa saja yang digerakkan  atau yang dilafadzkannya. Kebiasaan laku tirakat ayahku akhirnya menjadi kebiasaan kami sekeluarga. Pesan ayahku, “kalau kamu beribadah lakukan dengan sungguh-sungguh dan semata-mata karena Allah  dan bukan karena pamrih sesuatu. Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati kita.” Matanya memancarkan keteduhan, ketegasan dan kasih sayang.

QS. Al-Ankabut ayat 2-3 :

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?.

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Kehidupan ayahku mengalami revolusi besar secara lahir batin. Tepatnya ketika perusahaannya mengalami kebangkrutan. Padahal waktu itu posisinya bisa dikatakan cukup menjanjikan, yaitu sebagai direktur sebuah bank swasta nasional di Jawa tengah. Kondisi ini tidak membuat ayahku guncang atau putus asa. Ternyata bekal kejujuran yang selalu ia gaungkan dimanapun berada menyelamatkannya dari persoalan perusahaan yang dipimpinnya. Ayahku dinyatakan bersih dan tidak terkait sedikit pun dengan sangkutan dalam perusahaan itu. Bahkan setelah itu, ayahku mendapat tawaran untuk menduduki jabatan yang sama di sebuah bank swasta nasional di Jakarta. Namun tampaknya ayahku sudah tidak berminat lagi terjun di dunia perbankan. Dalam kehidupan berikutnya, kondisi ekonomi keluarga kami pun mengalami jatuh bangun. Pada fase inilah, aku merasa tingkat spiritual ayahku berkembang pesat.

*QS. Al-Baqarah ayat 45 :

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu’ , “

Dengan tabungan yang dimiliki ibuku, kami bertahan hidup dan hijrah ke Jakarta sekitar 35 tahun silam. Ayahku berubah drastis. Ia tidak gengsi untuk bekerja apa saja asalkan halal. Dalam pergulatannya melewati kehidupan yang begitu berat di Jakarta, ayahku makin tekun dan khusuk beribadah. Sholat wajib, sholat sunah dan puasa menjadi sesuatu yang lebih mendominasi hari-harinya. Bahkan hampir setiap malam hingga dini hari aku lihat ayahku duduk tenang dengan Al-Quran ditangannya. Sepertinya ayahku makin haus akan ‘makanan’ rohani yang membuatnya menjadi tangguh dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Saat itu dua adikku belum lahir. Aku, kakak dan adikku kerap dibangunkan di tengah malam untuk mendengarkan ‘hal-hal penting’ yang ia temukan sebagai ‘pencerahan kalbu’ dan ingin dibagikan pada putra putrinya. Sementara  itu kami anaknya yang masih kecill-kecil ternyata punya pemikiran dan kondisi yang sama, yaitu berat mencerna apa yang dipaparkan ayahku dan rasanya ngantuk sekali. Aku tahu ayahku begitu berharap kami di usia dini  sudah dapat ‘merasa, melihat, mendengar dan mengetahui’  sama dengan apa yang dialaminya.

Walau pun ayahku merasa upayanya belum berhasil membekali anaknya  pendidikan spiritual, ia tak pernah bosan untuk ‘ceramah tengah malam hingga dini hari’  pada kami. Bahkan untuk menjadikan kami sungguh-sungguh menyerap dan mencerna dalam kondisi mengantuk, ia tak segan-segan menyentil telinga salah satu dari kami yang tertidur  … ayahku pasti meminta kami untuk istighfar dan membaca ta’audz…. lalu.. ayat kursi. Menurut ayahku, rasa kantuk yang luar biasa adalah godaan dari syaitan yang tidak suka melihat kami beribadah. Suasana tengah malam seperti ini – mengkaji Al-Quran, memahami hakekat hidup, persoalan kehidupan dll – menjadi rutinitas, termasuk terhadap dua adikku yang lahir beberapa tahun kemudian dan beranjak besar. Kami berlima, anak-anaknya menjadi terbiasa mengikuti kajian Al-Quran dan berdiskusi spiritual bersama kedua orangtua kami. Terbentuknya semangat kami dalam memenuhi hasrat belajar spiritual dan  ilmu rohani juga tak lepas dari wejangan ibuku. Karena kadang masih muncul  rasa malas dan mengantuk ketika kondisi sedang tidak prima. Selain soal ajaran spiritual, ibu jugalah yang kerap mengajarkan dan mengingatkan kami anak-anaknya agar saling peduli satu sama lain. Persaudaraan kami begitu kuat. Bahkan setiap berkumpul, obrolan kami selalu merujuk pada evaluasi diri dan hal-hal yang menyentuh unsur spiritual.

Dulu saat aku duduk di bangku SMA… ketika ayahku masih hidup, ayahku sering meminta dengan sangat agar aku dan kakakku bisa segera ‘melihat’ melalui mata batin atau ‘melepas hijab batin’ sama seperti yang sudah didapat ayahku – menurut penuturannya ia alami sejak 1970 –  dan ini menjadi beban terberat buatku saat itu. Hal ini pernah aku sampaikan tapi ayahku sangat yakin aku akan sanggup dan menemukan ‘jalan’ untuk mencapai pada kondisi itu. Ayah dan ibuku adalah orang yang paling awal mengetahui ‘pertanda’ atau ‘firasat’ yang aku dapatkan melalui mimpi atau pun ‘pesan batin’. Banyak kejadian-kejadian besar di negeri ini sudah kami diskusikan sebelum terjadi. Melihat minatku yang begitu besar pada dunia spiritual sejak balita, ayahku terus membimbingku  dalam segala laku tirakat yang aku jalani dari usia dini. Aku tak pernah asing mendengar laku tirakat puasa baik secara Islam (puasa2 sunah yang di anjurkan) atau secara kejawen (ngebleng, ngerowot, ngalong …dll). Menurut ayahku, selama itu menjadikan kita lebih baik secara ruhani maka lakukan saja asalkan dengan sungguh-sungguh dan tidak ada keterpaksaan.

Ketekunan ayahku dalam beribadah dan istiqomahnya memang menjadi satu cerita indah bagi kami anak-anaknya hingga saat ini, walau pun ayahku sudah meninggal dunia pada 13 April 1998.  menurutku, ayahku adalah lelaki yang memiliki karakter langka di zaman sekarang. Kejujuran baginya adalah panglima. Berkaitan dengan soal kejujuran, ayahku pernah menyampaikan dengan wajah tegang tentang ketidakjujuran yang pernah dilakukan dan ia menyatakan penyesalannya yang dalam. Ia menuturkan bahwa ketika ada seorang teman di masa kuliah pernah meminta sebatang rokok pada ayahku dan ia mengatakan tidak ada. Ayahku menjelaskan padaku kalau dirinya menjadi gundah dan berusaha membela diri melalui hatinya yang menjawab “untuk kamu tidak ada tapi untuk saya ada, itu pun hanya sebatang” …. aku sempat tertawa kecil waktu mendengar cerita ini. Karena buat aku kebohongan seperti ini terasa sepele dan mungkin menjadi sesuatu yang biasa dan lazim dilakukan orang ketika malas berbagi dengan orang lain. Namun ayahku malah menegurku… “kamu jangan main-main dengan persoalan ini. Kebohongan-kebohongan kecil akan melatih kamu menjadi PRIBADI YANG BURUK karena terlatih dengan kebohongan-kebohongan besar. Kebanyakan orang merasa aman berbohong karena tidak ada yang melihat atau mengetahui. Tapi harus kamu ingat, Allah itu Maha Melihat dan maha Mendengar”…. upsss… malu rasanya mendapat teguran ini. Benar juga apa kata ayahku. Hari itu aku mendapat pelajaran yang sangat berharga dan mengena hingga batinku.

KEJUJURAN yang diajarkan ayahku membuat aku mulai meng-afirmasikan dalam pikiranku bahwa kalau aku berani jujur nggak akan mati kok. Maka latihan jujur itu pun mulai aku terapkan di rumah. Suatu hari, aku berinisiatif membersihkan lemari kaca. Karena kakiku terasa pegal tanpa sadar aku duduk di meja kaca yang tingginya sekitar 50 cm (padahal aku sering diingatkan ibuku, tabu duduk di atas meja). Dalam hitungan detik terdengar suara kaca pecah berkeping-keping. Aku benar-benar terkejut. Nyaris aku terjerembab ketengah meja karena kacanya pecah aku duduki dan pinggirnya masih ada potongan kaca yang menempel. Wajahku tegang dan bingung mau melakukan apa. Tiba-tiba muncul ayahku dan bertanya dengan nada tegas, “sopo sing mecahke kocone mejo iki?” (red: siapa yang memecahkan kacanya meja ini)….aku pun menyahut dengan bahasa jawa dan dengan suara mantap tapi siap-siap dimarahi, “kulo bapak” (red : saya bapak). Suasana hening sejenak. Ayahku melihat kemataku dengan tajam dan sedikit heran. Mungkin ia tak menyangka aku tidak membela diri atau berkelit sedikit pun. Barangkali juga ia langsung ingat bahwa kami diajarkan untuk melatih diri bersikap dan berkata jujur. Reaksi ayahku diluar dugaanku. Ia tidak marah sedikit pun. Bahkan hanya mengingatkan diriku dengan nada lembut, “yen kerjo sing ati-ati. Wes saiki di sapu wae. Mengko belinge mendak keno tanganmu”(red: kalau kerja yang hati-hati. Ya sudah sekarang disapu saja. Nanti pecahan kacanya kena tanganmu) …ahhh leganya hatiku. Dengan sigap aku langsung menjawab, “injih bapak” (red: iya bapak). Satu pelajaran tentang kejujuran buat aku, mungkin dangkal untuk saat itu tapi paling tidak aku telah membuktikan dalam satu kejadian yang tak terlupakan. Jujur itu melegakan dan tidak membebani pikiran.

Ayahku  memang tidak pernah sempat melihat anak-anaknya menikah. Ayahku meninggal dunia disaat anak-anaknya baru mulai mandiri. Tapi paling tidak ia telah mewariskan begitu banyak pesan dan ajaran yang berhubungan dengan pondasi membangun rumah tangga. Ternyata tetap saja kejujuran adalah kunci dari semuanya. Beliau bukan Cuma memberikan pelajaran tapi juga mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari.  Ayah dan ibu sangat menjaga komunikasi dan saling menghormati. Kemana pun ayahku pergi ia selalu berpamitan dengan ibuku. Soal kesetiaannya pada ibuku, kami tak pernah meragukan.  Soal keuangan, ayahku sangat terbuka pada ibuku. Berapa pun yang ia dapatkan selalu diberikan pada ibuku untuk dikelola. Ibuku juga cukup pandai mengelola keuangan dan bukan tipe wanita yang boros atau gemar bersolek. Ayahku selalu mengingatkan kami untuk mencari rezeki dengan jalan yang halal.

QS. Al-Baqarah (2): 168

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan ; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

QS. Al-Maidah (5) : 88

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”

QS. An-Nahl (16) : 114

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan kepada Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”

Ayahku pernah mengulas secara khusus tentang apa yang ‘terkandung’ dalam hal pencarian dan memberi nafkah dari hasil dan sumber yang halal . Menurut ayahku, melalui penglihatan ‘mata batinnya’  tergambar secara jelas apa yang terjadi pada tubuh anak dan istri atau keluarga jika diberi nafkah dari rezeki yang halal. Juga ia jelaskan secara gamblang mengapa banyak ‘tagihan’ atau ‘teguran’ dalam bentuk musibah, bahaya, penyakit, kerugian & celaka jika memberi nafkah dari rezeki yang haram. Dulu mungkin aku masih sulit mencerna apa yang dimaksud ayahku. Tapi kini semua jadi jelas. Ayahku menggambarkan bagaimana alur/proses nafkah yang diberikan, lalu dibelanjakan dan menjadi pemenuhan kebutuhan sandang pangan. Contohnya ketika nafkah dibelanjakan menjadi makanan, maka akan berproses pada tubuh kita dan salah satunya menjadi darah. Pada darah misalnya, akan memancarkan energy dan aura sesuai dari apa yang didapat atas sumber hasil makanan dan pancarannya mengitari seluruh tubuh kita. Seperti  inilah uraian yang pernah disampaikan ayahku  tentang rezeki  ;

Rezeki yang halal :

– menghasilkan energy positif ; putih, hijau, biru, ungu

– memancarkan aura perlindungan, kasih sayang, kedamaian, keberkahan dan kewaskitaan.

– dampak pada kehidupan : penuh berkah, terlindungi dari hal-hal yang buruk seperti musibah, terhindar celaka dan tehindar dari kejahatan, mendapat gaya tarik menarik dengan unsur-unsur kebaikan dan terarah untuk melakukan hal-hal positif dan kreatif.

– memiliki daya tolak terhadap hal-hal yang negatif dan merugikan.

– hidup tenang : tidak dikejar perasaan berdosa gara-gara makan dari uang yang bukan haknya/haram.

Rezeki yang haram :

–          Menghasilkan energy negatif : merah, abu-abu,  kelam, suram, coklat, hitam.

–          Memancar aura amarah, penghancuran, pemberontakan, pengkhianatan, penyelewengan, mesum, gamang, kegundahan dan aura negatif lainnya.

–          Dampak pada kehidupan : tamak/serakah, penuh pertikaian, perselisihan. Mudah tersulut emosinya. Mudah tersambar hal-hal berunsur petaka, kejahatan, celaka, mudah terbawa pengaruh pada hal-hal negatif, kurang peka, meremehkan kehidupan, keji, mudah berbohong, mudah berselingkuh, tidak bersyukur, tidak amanah dan suka menipu, gemar menyakiti hati orang lain dan masih banyak lagi perilaku negatif lainnya.

–          Memiliki daya serap terhadap unsur bahaya/malapetaka. Salah satu contoh : ada segerombolan penjahat yang diliputi unsur energy negatif (merah), maka otomatis yang paling kuat daya tarik menariknya untuk menjadi korban adalah seseorang yang memancarkan aura negatif. Karena dalam kacamata penjahat  tersebut, si pemancar aura merah ini lebih menarik dan pasti memiliki sesuatu untuk dirampas. Tak heran, jika ada tindak kejahatan di tengah masyarakat pasti ada yang menjadi korban dan ada yang terhindar dari musibah tersebut. …… semoga kita termasuk orang-orang yang dijauhkan dari energy negatif itu.

Ketika aku remaja ayahku juga sering berpesan agar kami selalu berbagi dengan sesama terutama yang terlihat  didepan mata dan dekat dalam lingkungan hidup kita. Menurutnya ini salah satu contoh kecil melatih diri melakukan kebajikan. jika sudah terlatih maka kita akan terbiasa berbuat kebajikan dan menjadikannya satu kebutuhan yang berdampak pada kebahagiaan batiniah. “Lakukanlah sesering mungkin dan tidak perlu orang lain tahu. Jika batin kita sudah sangat lekat dengan hal-hal yang positif maka Insya Allah kita dijauhkan dengan hal-hal negatif.” tegas ayahku.

Bersambung………….

7 thoughts on “TENTANG AYAHKU DAN AJARAN2NYA : Tentang kejujuran, ketangguhan, tawakal, istiqomah, rezeki halal dan haram

  1. Menyentuh dan menginspirasi. Terima kasih banyak telah share sehingga saya bisa membacanya. Izinkan saya juga berdoa, “Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.” Terus bergerak, selamat berkarya, dan semoga senantiasa bahagia.

    • Terimakasih sudah sudi singgah ke blog saya dan membaca catatan memori ttg ajaran dan pesan almarhum ayah saya. terimakasih banyak atas doa yg tulus bagi alamarhum ayah saya… saya jadi terharu ….bahagia..dan tidak kuasa menahan tetesan air mata… Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kebahagiaan bagi Bapak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s