In Memoriam Mama Laurent ….

SELAMAT  JALAN MAMA LAURENT (part 2)

In Memoriam Mama Laurent …. (air mataku  menetes …membayangkan senyuman Mama ..sosok  sahabat sekaligus ibu yang bersahaja)

Kepergian Mama Laurent masih meninggalkan rasa kehilangan dihati saya. Usai melayat, saya dan mas Hendy suami saya bergegas pulang. Malam ini terasa lengang sekali jalan-jalan di Jakarta. Membuat rasa duka makin menggigit hati saya. Sesampai dirumah saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Kami memutuskan besok akan pergi ke pemakaman Mama Laurent.

Pukul 11.00 WIB, Selasa 18 Mei 2010, saya dan suami segera meluncur menuju TPU Menteng Pulo di kawasan Jakarta Selatan. Sebelumnya saya khawatir akan tertinggal prosesi pemakaman Mama Laurent. Itu sebabnya kami langsung meluncur ke area pemakaman. Kami tiba lebih cepat sekitar setengah jam. Alhamdulillah… ternyata kami tidak terlambat dan masih diberi kesempatan untuk mengantar Mama Laurent ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Bunyi sirene ambulance terdengar dan iring-iringan mobil satu persatu memasuki area pemakaman. Saya lihat om Hendrik, suami Mama Laurent dari     kejauhan, disusul  Wisnu dan Krisna. Mereka tampak tegar berada diantara  iring-iringan pengantar jenazah.

Suasana duka makin terasa ketika Wisnu turun ke liang lahat untuk membantu prosesi pemakaman. Saya yang berdiri tidak jauh dari om Hendrik dan Krisna berada, melihat dengan jelas bagaimana raut wajah Krisna menahan tangis sekuat tenaga…. dan akhirnya tangis itu pun tak terbendung lagi. Rasa kehilangan orang yang dikasihi mulai merambati hati keluarga, sahabat dan kerabat Mama Laurent yang hadir. Mata mereka saya  lihat sudah sembab oleh air mata yang terus menetes. Seperti mengisyaratkan kata “selamat jalan Mama…kami ikhlas melepas dirimu dengan penuh cinta dan iringan doa”.  Saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.

Area pemakaman sudah semakin padat. Tampak puluhan juru kamera televisi yang dengan sabar merekam setiap moment dari prosesi pemakaman Mama Laurent.  Saya masih terus berdiri sambil menatap ke gundukan tanah dimana Mama Laurent baru saja dimakamkan.

Acara dilanjutkan dengan tabur bunga. Dimulai dari Wisnu, Krisna dan om Hendrik. Lalu disusul oleh yang lainnya. Wisnu dan Krisna masih berada disamping makam Mama. Keduanya mulai tak kuat menahan duka yang dirasakan. Rasa kehilangan yang begitu kuat

tampaknya mulai merambati hati keduanya. Krisna dan Wisnu terduduk lemah, sementara om Hendrik tampak begitu tegar melewati saat-saat yang berat ini.

Saya dan teman-teman dari AKSI (Asosiasi Konsultan Spiritual Indonesia) dan APALI (Asosiasi Penyembuh Alternatif Indonesia), diantaranya ada bapak Kustiawan, ibu Nurul, ibu Monalisa, ibu Euis Marshal, ibu Ida, Ibu Iis Rusminiwati dll, berkesempatan untuk berdoa bersama yang ditujukan untuk almh. Mama Laurent agar diberikan tempat yang layak disisi Allah SWT, diterima segala amal ibadahnya dan diampuni dosa-dosanya.

Saya masih terpekur disamping makam Mama Laurent. Saya pejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menekan perasaan sedih yang tiba-tiba begitu menggigit hati saya. Rasa kehilangan akan sosok Mama Laurent makin terasa. Namun saya masih cukup kuat untuk menahan air mata ini tidak menetes.

Saya segera beranjak untuk segera pamit ke om Hendrik.  Dengan ramah om Hendrik menggenggam tanganku dan dengan suara yang berat mengingatkan aku..  ”Endang jangan lupa sama keluarga Mama ya… walau pun Mama sudah tiada… kita sudah seperti keluarga…sering-sering main ke rumah ya bareng suamimu…O iya tahlilan Mama datang ya” … duhhh sedih dan haru rasanya hati saya mendengar permintaan pria bernama lengkap Handrijck Yulien Pasaribu ini. Saya menjawab dengan perasaan galau menahan air mata yang masih berhasil saya bendung…. “Iya om…Insya Allah saya datang ke tahlilan Mama”… “Iya om….nggak mungkinlah saya lupa sama keluarga Mama. Kita kan sudah seperti keluarga”…  satu persatu menyalami om Hendrik sambil berpamitan. Saya pun segera berlalu dari makam Mama Laurent.

Entah apa yang menyebabkan saya menghentikan langkah. Saya membalikkan tubuh dan melihat kembali ke makam Mama. Saya lihat om Hendrik mendekati lagi makam Mama Laurent dan bersimpuh disampingnya. Wajah om Hendrik yang sejak awal tampak tegar, saya perhatikan mulai memerah dan matanya pun tampak menahan tangis.

Ia sepertinya  berat meninggalkan makam orang yang begitu ia kasihi. Saya tak kuat melihat adegan yang begitu menggetarkan. Air mata saya akhirnya menetes deras sambil melihat peristiwa di hadapan saya yang makin mengiris hati. Rasa kehilangan orang yang begitu dicintai begitu jelas terlihat. Om Hendrik dengan sepenuh hati membelai nisan Mama Laurent …ia seperti menggumamkan kata-kata perpisahan sambil terus saja menatap ke pusara.

Dua orang dari kejauhan saya lihat seperti membujuk om Hendrik untuk mengikhlaskan kepergian Mama. Saya bisa merasakan betapa om Hendrik kehilangan belahan jiwanya yang sepanjang waktu bersama dan ia dampingi dengan setia kemana pun Mama pergi. Terlebih ketika Mama sudah tidak kuat berjalan dan menggunakan kursi roda, om Hendrik yang ada disampingnya. Saya jadi teringat saat Mama Laurent saya sisir rambutnya untuk membuat sebuah promo program akhir tahun untuk antv. Saya juga memulas tipis lipstik ke bibir Mama. Selesai saya dandani dengan manja Mama bertanya ke om Hendrik, “Sudah rapi belum rambutnya?” … dan dengan mesra om Hendrik menjawab “sudah cantik dooong” ….dan Mama pun tertawa bahagia. Kini canda itu tinggal kenangan. Om Hendrik pasti masih memiliki  jutaan waktu penuh kenangan yang dirajut dengan indah bersama Mama. Begitu berat tampaknya om Hendrik untuk beranjak dari makam yang masih basah itu.

Air mata saya terus menetes. Melihat duka di wajah om Hendrik dan ‘melihat’  aura cinta dalam ikatan batin antara om Hendrik dan Mama Laurent, walaupun Mama kini sudah tiada. Mama Laurent pasti bangga dan bahagia, melihat pasangan jiwanya mendampingi hingga akhir hayatnya. Saya masih terpekur dan sibuk menghapus air mata yang sudah sulit saya hentikan. Suami saya ternyata memperhatikan saya diam-diam. Mas Hendy membimbing saya untuk meninggalkan area pemakaman dan berbisik ..”jangan lupa juga berdoa untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan”.

Mama Laurent memang telah tiada. Tapi saya yakin semangatnya dan kekuatan cintanya sebagai sosok ‘Mama’ yang melegenda akan terus hidup. Kami akan selalu merindukanmu.

Selamat jalan Mama Laurent. Semoga segala amal ibadahmu diterima Allah SWT. Diampuni dosa2nya dan mendapat tempat yang terindah disisiNya….amin.

Endang Widiastuti R.

Jakarta, 18 Mei 2010

2 thoughts on “In Memoriam Mama Laurent ….

  1. hhmm…..saya juga merasakan hal yang sama….malah seperti separuh jiwaku hilang,,,,semoa mama tenang & bahagia disana…mama slalu buat sapapun teduh & damai…

    • Terimakasih mbak Ega atas simpatinya…… siapa pun yg mengenal mama pasti akan merasa dekat spt berdekatan dengan ibu sendiri…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s